Postingan

Nyonya Bovary (Madame Bovary)

Gambar
  Satu kata: Frustasi. Ya. Itu satu-satunya kata yang bisa saya ucapkan untuk menggambarkan perasaan dan suasana hati saya ketika membaca mahakarya Gustave Flaubert yang digadang-gadang sebagai karya sastra roman terbaik ini. Dan, memang, sejak kali pertama terbit di Prancis-negeri penuh cinta dan romantisme itu, novel ini telah menemukan jalannya menuju meja hijau untuk disidang. Ia masuk pengadilan atas tuduhan amoral, penyebaran asusila dan perbuatan tidak senonoh.  Bagaimana tidak? Untuk sekelas masyarakat pada zaman itu (1857 saat kali pertama terbit), novel Flaubert menggempur sendi-sendi masyarakat barat yang bermoral, tinggi dan berperadaban. Tapi, ia pun menunjukkan satu hal pada mereka semua: bahwa di balik pencapaian dan kegemilangan negeri-negeri barat, pada kenyataannya, realitas masyarakat mereka punya masalah serius. Madame Bovary, atau Nyonya Bovary dalam terbitan Kepustaan Gramedia Populer sekarang (sebab novel ini dicetak ulang berkali-kali oleh penerbit berb...

Posisi Turki Utsmani di dunia internasional pada abad ke-16-19 dan kedudukannya terhadap kerajaan-kerajaan Islam lain di seluruh dunia

  Pendahuluan Daulah Utsmaniyah, atau yang lebih populer disebut sebagai Kesultanan Turki Utsmani, atau Khilafah Ustmaniyah, atau Ottoman dalam literatur barat, pernah berdiri sebagai pengayom umat muslim internasional. Ketika Sultan Salim I mengalahkan Khalifah Al-Mutawakkil di Kairo, gelar Khalifah diserahkan kepada wangsa Ustmani, hingga para penguasa selanjutnya memiliki dualisme kekuasaan: Sultan, yang digunakan sebagai penguasa kerajaan Turki. Dan Khalifah, sebagai pemimpin dan pelindung umat muslim di seluruh dunia.             Selama enam ratus tahun sejak kebangkitan dinasti ini di Asia kecil, para utusan dari berbagai dunia—baik dalam bentuk Duta Besar penyerahan upeti atau utusan permintaan legalitas kesultanan di wilayah kecil—berseliweran sepanjang jalur lintas dunia internasional, masuk ke Istana Topkapi untuk berhadapan dengan Sultan. Permintaan akan perlindungan dan jaminan keselamatan kerap dilayangkan ke k...

PANDANGAN SAYA TERHADAP IBUNDA SAYYIDAH AISYAH BINTI ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ

Gambar
                 Belakang hari, orang ramai-ramai bicara soal ibunda kita yang mulia, Sayyidah Aisyah ra. Dibuatkan lagu untuk mengenangnya, diisi baris lirik soal asmaranya dengan baginda Nabi. Orang-orang pun, terutama kaum perempuan, beramai-ramai menggandrungi lagunya. Lebih-lebih kemudian, bermimpi sambil senyam-senyum kalau-kalau mereka bisa berlakon macam ibunda Aisyah. Berkejar-kejar, makan dan minum dengan mesra, tempel pipi dengan pipi, tempat sandar kepala di pahanya. Namun, benarkah ‘hanya’ demikian?                 Mengingat ibunda Aisyah sebatas demikian, dan menempatkannya semata-mata sebagai perlambangan soal cinta, asmara dan hubungan mesra antara suami istri adalah usaha mempersempit jati diri beliau yang mulia. Seolah-olah tak ada yang patut diingat dan dicontoh darinya kecuali lari-lari dan menempel pipi. ...

PENULIS MUSLIM PEREMPUAN, BUDAYA, DAN AGAMA

Gambar
Sudah dua tahun sejak pertama kali saya membaca buku-buku penulis muslim perempuan dunia. Waktu itu di Big Bad Wolf pertama kali saya mendapatkan buku Azar Nafisi: Reading Lolita in Tehran dan Shirin Ebadi: Iran Awakening. Sejak saat itulah perkenalan saya dengan penulis muslim perempuan berlanjut hingga hari ini. Hingga saya mengagumi mereka semua. Mengagumi kekuatan mereka. Oh, tentu saja saya tidak sepakat dengan banyak pemikiran mereka. Tapi, membaca karya perempuan-perempuan ini membuat kita berjalan di tengah masyarakat dan mengendus semua aroma masalah yang terjadi. Khususnya soal perlakuan terhadap perempuan. Melalui buku-buku merekalah saya mengerti bahwa budaya, tafsiran agama yang tidak populer adalah masalah utama perempuan muslim. Saya ingin beri contoh. Pada kasus Fatima Mernissi, perempuan dianggap tercela bila memperoleh pendidikan umum dan menjadi setara dengan pria dalam soal asah otak. Hidup perempuan dikurung di sepetak dinding bernama Harem. Tak dibiarkan ...

PERMISIVISME: LIMBAH YANG MUSTI KITA TELAN

Gambar
Setelah dijajah kita secara fisik oleh bangsa-bangsa barat yang hendak mencuri kekayaan alam serta memperbudak sumber daya manusia, akhirnya mereka pergi juga. Di negeri kita, telah pergi orang-orang barat itu tujuh puluh tiga tahun lampau. Namun, rupanya mereka hilang diri tinggal bau . Jejaknya masih kasat. Cengkeramannya masih mencekik. Tali temalinya masih menggantung leher-leher kita.             Pada semua negeri-negeri yang pernah dijajah oleh bangsa barat, agaknya nasib kita tak jauh-jauh beda. Kita ditinggalkan secara fisik. Tak kita lihat orang-orang berjalan-jalan di pasar-pasar. Tak lagi kita lihat Meneer Meneer diangkut di tandu-tandu, di kereta kuda, di mobil-mobil mahal. Namun hakikatnya mereka masih ada. Masih di sini. Masih berkata kami kuasa adidaya. Sedang kalian kalah dan terjajah . Apa buktinya?             Sejak proses globalisasi digencarkan, seluru...